Di tengah negosiasi yang terjebak antara Iran dan Amerika Serikat, isu perpecahan internal mulai muncul ke permukaan. Salah satu kasus yang menarik perhatian adalah ancaman pemecatan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, oleh Presiden Masoud Pezeshkian dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Menurut sumber yang dekat dengan pemerintahan, Araghchi dianggap tidak memposisikan dirinya dengan baik sebagai pejabat eksekutif dan lebih bertindak sebagai ajudan Komandan Garda Revolusi Iran (IRGC), Ahmad Vahidi.
Permasalahan ini bermula dari instruksi IRGC kepada Araghchi yang terkait dengan pembicaraan nuklir, namun Araghchi tidak melaporkan perkembangan terbaru kepada Pezeshkian. Sebaliknya, ia hanya berkoordinasi dengan Vahidi, sehingga Pezeshkian merasa kesal dan tidak puas dengan kinerja Araghchi. Jika Araghchi kembali melakukan hal yang sama, Pezeshkian dituding akan memecatnya.
Perpecahan Internal Iran
Ini bukanlah pertama kalinya isu perpecahan internal Iran mencuat ke permukaan. Pada 28 Maret, laporan menunjukkan perbedaan pendapat yang serius antara Pezeshkian dan Vahidi, yang dikatakan sebagai tokoh paling berpengaruh di Garda Revolusi Iran. Perselisihan tersebut berasal dari "penanganan perang dan konsekuensi destruktif terhadap mata pencaharian masyarakat dan perekonomian negara." Bahkan, Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengindikasikan bahwa terjadi perpecahan di antara para pemimpin Iran, sehingga negosiasi sangat sulit dilakukan.
Trump mengatakan bahwa ada beberapa kelompok di Iran yang tidak terkoordinasi dengan baik, sehingga mereka semua ingin membuat kesepakatan, tapi mereka semua kacau. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran tentang kemampuan Iran untuk melakukan negosiasi yang efektif dengan AS. Dengan ancaman pemecatan Araghchi, krisis kepemimpinan Iran semakin dalam, dan prospek negosiasi nuklir yang sukses semakin menipis.
Sumber: CNN Indonesia | Berita Terbaru, Terkini Indonesia, Dunia






