Di tengah kekhawatiran yang meningkat di kalangan generasi muda Madagascar, penangkapan beberapa aktivis muda pada 12 April telah memicu kekhawatiran bahwa rezim militer yang berkuasa sejak Oktober 2025 tidak akan lebih baik dari pemerintahan yang mereka gulingkan. Empat aktivis muda, Herizo Andriamanantena, Miora Rakotomalala, Dina Randrianarisoa, dan Nomena Ratsihorimanana, ditangkap setelah mengikuti unjuk rasa yang menuntut penetapan tanggal pemilihan umum.
Menurut pengacara mereka, Aliarivelo Maromanana, mereka dituduh melakukan tindakan yang mengancam keamanan negara dan konspirasi kriminal. "Mereka semua menyangkal tuduhan tersebut dan tidak ada bukti yang cukup," kata Maromanana. Rezim militer yang dipimpin oleh Kolonel Michael Randrianirina telah menghadapi kritik keras dari generasi muda yang merasa bahwa pemerintahan baru tidak lebih baik dari pemerintahan sebelumnya.
Reaksi dari Pemerintah dan Masyarakat
Reaksi dari pemerintah dan masyarakat terhadap penangkapan aktivis muda tersebut telah memicu kekhawatiran tentang masa depan demokrasi di Madagascar. Ketakandriana Rafitoson, anggota dewan Transparency International Madagascar, mengatakan bahwa penangkapan tersebut "mengkhawatirkan dan menimbulkan pertanyaan tentang penghormatan terhadap kebebasan dasar".
Madagascar, sebuah negara kepulauan di Samudra Hindia dengan 32 juta penduduk, kaya akan keanekaragaman hayati dan sumber daya alam, termasuk vanila, rubi, dan safir. Namun, negara ini telah mengalami berbagai krisis, termasuk kudeta dan korupsi, serta bencana alam seperti badai tropis dan kekeringan yang diperburuk oleh krisis iklim.
Generasi muda Madagascar telah menjadi sangat frustrasi dengan pemerintahan baru yang tidak memenuhi harapan mereka. Mereka menuntut reformasi ekonomi, pemilihan umum yang adil, dan konstitusi baru yang lebih representatif. Elliot Randriamandrato, pemimpin Gen Z Madagasikara, mengatakan bahwa pemerintahan baru belum melakukan reformasi yang signifikan dan bahwa masyarakat masih menunggu perubahan yang nyata.
Sumber: World news | The Guardian






